Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

Nicolas Anelka Temukan Kedamaian Setelah Masuk Islam


Nicolas Anelka. Striker klub Liga Super Cina, Shanghai Shenhua itu lahir di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979.

Banyak orang mengira dulunya Nicolas Anelka adalah seorang Kristiani. Padahal waktu itu ia tidak mempercayai keberadaan Tuhan alias atheis. Namun saat menjadi atheis itulah Nicolas Anelka banyak bergaul dengan temannya dari keluarga Muslim. Dari sana ia mulai tertarik dengan Islam.

“Saya menjadi ‘seorang Muslim’ sejak saya berusia 16 tahun,” kata Anelka menjelaskan perasaannya kepada majalah Super yang berbasis di Arab Saudi. Namun secara resmi, mantan bomber Chelsea itu mengikrarkan dua kalimat syahadat pada 2004 di Uni Emirat Arab. Sejak saat itu, Nicolas Anelka memiliki nama Muslim Abdul–Salam Bilal.

Saat diwawancarai FourFourTwo, striker yang mengantarkan Prancis merengkur tropi Piala Eropa 2000 ini mengungkapkan bahwa ia memilih Islam karena agama itu sesuai dengan hati nuraninya. Cara hidup yang dituntunkan Islam membawa kedamaian bagi jiwa Anelka.

“Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya hari ini,” ujar Anelka.

Memeluk Islam mengubah hidup Anelka menjadi positif dan bermakna. Islam menuntunnya pada ketenangan, sekaligus membuatnya bertindak bijaksana.

Anelka juga menegaskan, Islam adalah sumber kekuatan dalam dan di luar lapangan.

“Saya memiliki karier yang sulit, saya kemudian memutuskan untuk menemukan kedamaian. Dan, akhirnya saya menemukan Islam," tegas pemain sekaligus pelatih Shanghai Shenhua itu. [IK/Rpb/bsb]
 
sumber : www.bersamadakwah.com

Thierry Henry: Islam adalah Pilihan Terbaik bagi Saya



Lahir di Paris pada 17 Agustus 1977, Thierry Henry tumbuh di lingkungan yang keras. Namun, distrik Les Ulis Paris tempat Henry tinggal memiliki fasilitas sepak bola yang bagus. Di sanalah potensinya sebagai pemain bola terasah.

Ketika usianya baru enam tahun, Thierry Henry dijadikan anggota klub lokal CO Les Ulis oleh Claude Chezelle. Lima tahun kemudian, Henry bermain dalam pertandingan pertamanya untuk klub tersebut. Pada 1989, Henry bergabung dengan US Palaiseau dan setahun kemudian pindah ke klub Viry-Châtillon setelah ayahnya bersengketa dengan US Palaiseau.

Tahun 1990 Arnold Catalano mengajak Henry bergabung dengan AS Monaco tanpa melalui masa uji coba setelah melihat remaja itu bertanding dan mencetak enam gol hingga timnya menang 6–0. Enam tahun di AS Monaco, Henry kemudian pindah ke klub Serie A Italia Juventus dengan harga £10,5 juta pada 1999.

Di Juventus, Henry tidak bertahan lama. Pada bulan Agustus tahun yang sama, Henry pindah ke Arsenal. Dari sana Henry kemudian berkembang menjadi salah satu pemain sepak bola terbaik dunia.

Banyak yang bertanya apakah Thierry Henry telah mengikrarkan syahadat. Namun, seperti dilansir Republika, Kamis (31/5), ketika memutuskan berpindah keyakinan dan menjadi mualaf, Henry merasa bahwa selalu sangat dekat dengan Islam.

"Saya menganggap Islam sebagai pilihan terbaik untuk saya jika saya ingin percaya pada sebuah agama," kata penyerang Les Bleus Prancis yang sukses meraih Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 itu.

Menurut Henry, menjadi seorang Muslim itu tidak boleh setengah-setengah. Ia meyakini bahwa Muslim harus mengikuti Al-Qur'an. Karenanya meskipun belum mengikrarkan syahadat, Henry berusaha terlebih dulu untuk meyakini dan mengikuti Al-Qur'an.

"Aku mengikuti semua apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an. Ini sebabnya saya anggap Islam yang paling dekat dengan hati saya," imbuh striker New York Red Bulls tersebut. [IK/Wkp/Rpb/bsb]
 
sumber :www.bersamadakwah.com

Selasa, 29 Mei 2012

Presiden PKS: Aktivis Islam Harus Membuka Diri

Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq saat menyampaikan pidatonya dalam Konferensi Internasional bertema Islamic Unity dan New World, yang diselenggarakan ESAM Turki. (ist)
dakwatuna.com – Istanbul. Para aktivis Islam perlu membuka diri, serta membangun relasi dan kerja sama yang produktif dan berkesinambungan dengan beragam kelompok masyarakat. Karena membangun negara, mengelola pemerintahan, terlebih menata kehidupan dunia, tidak mungkin hanya dilakukan oleh para aktivis Islam saja. Ini adalah misi bersama yang hanya bisa dicapai jika melibatkan sebanyak mungkin komponen masyarakat.
“Karena perjuangan untuk itu, termasuk di dalamnya unsur kemanusiaan, sosial, ekonomi, politik dan seluruh unsur yang dibutuhkan adalah misi bersama.” Demikian paparan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dalam pidatonya pada Konferensi Internasional bertema Islamic Unity and New World, yang diselenggarakan oleh ESAM (Ekonomik ve Sosyal Arastimalar Merkezi) ke-21, Minggu (27/5) di Istanbul, Turki. ESAM adalah sebuah lembaga kajian sosial dan ekonomi di Turki.

Pada konferensi yang dihadiri oleh utusan lebih dari 50 negara itu Luthfi menyatakan, sinyal kebangkitan dunia Islam semakin jelas terlihat dalam dua dekade terakhir. Kebangkitan dunia Islam ini, lanjut Luthfi, harus diiringi dengan kesiapan para aktivis Islam untuk berdialog dan bekerja sama dengan berbagai unsur, baik di level nasional maupun internasional guna mencapai misi bersama. Yakni menciptakan tatanan dunia atau membangun peradaban dunia yang lebih berkeadilan.

Lebih lanjut Luthfi menyatakan, semua negara sangat membutuhkan pengalaman negara lain di berbagai bidang baik ekonomi, sosial, dan politik. Untuk itu dunia Islam perlu membangun kerjasama, baik sesama negara Islam maupun dengan negara-negara lain di berbagai belahan dunia.

Luthfi juga menyatakan, dunia Islam tak pernah kekurangan pakar di berbagai bidang. Dan kepakaran itu akan terjawantahkan dan tersalur ketika pintu-pintu kerjasama dan keterlibatan mereka dibuka. Sehingga mereka secara bersama-sama dapat berkontribusi membangun peradaban dunia masa depan. (ist)

Wanita-wanita Luar Biasa


Written By Admin BeDa on Rabu, 07 Maret 2012 | 13:00

 Namanya Ummu Haritsah. Ia mendengar anaknya meninggal dalam perang Badar terkena panah liar. Sebagai seorang ibu, tentu masih ada rasa kehilangan dalam dirinya. Namun ini adalah sosok ibu yang berbeda. Ibu dan wanita yang luar biasa.

Ummu Haritsah tak puas dengan hanya berita itu. Ia pun datang menghadap Rasulullah. Bukan untuk memastikan anaknya benar-benar telah mati. Tetapi untuk mendapatkan jawaban, apakah kematian anaknya itu tergolong syahid hingga membawanya ke surga, atau justru kematian yang mengantarkan ke neraka.

"Wahai Rasulullah," tanya Ummu Haritsah begitu berhasil menghadap Nabi, "di manakah posisi Haritsah? Jika di surga, maka saya ridha atas kematiannya. Namun jika di neraka saya akan meratapinya agar siksanya diringankan."

"Wahai Ummu Haritsah," jawab sang Nabi penuh wibawa, "Sesungguhnya Haritsah anakmu berada di surga Firdaus."

Subhaanallah. Bukan hanya surga, tetapi surga Firdaus, surga tertinggi, surga terindah. Mendengar itu tenanglah Ummu Haritsah. Kini ia pulang ke rumah dengan senyum merekah dan kebahagiaan yang membuncah.

***

Wanita lainnya bernama Khansa. Khansa binti Amru. Meski wanita, ia ikut dalam barisan jihad melawan pasukan Persia dalam perang Qadisiah. Bersamanya, empat putranya juga turut serta dalam perang yang terkenal itu.

Khansa membakar semangat putra-putranya. Ia memeperingatkan mereka agar tak gentar, apapun yang terjadi.

"Kalian telah beragama Islam dengan tulus," katanya dengan nada orasi, "kalian mengikuti kaum Muslimin tanpa ada yang memaksa. Kalian berasal dari satu ibu dan satu ayah. Demi Allah, ayah kalian bukanlah orang yang lemah. Paman-paman kalian juga bukan orang yang lemah."

Semangat bertempur empat putra perindu surga demikian menggebu. Tanpa rasa takut mereka menyerbu. Pasukan Persia menyambut dengan perlawanan seru. Pedang beradu. Denting suara senjata memenuhi telinga. Lalu satu per satu empat putra Khansa gugur hingga tak tersisa.

Bukannya sedih atau meratap, dari lisan Khansa terdengar syukur terucap. "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Semoga kelak Allah mengumpulkan aku dengan mereka di surga."

***

Wanita-wanita luar biasa. Merekalah yang mampu mendidik putra-putrinya untuk berjihad membela agama. Merekalah yang menanamkan semangat berislam dan memperjuangkannya ke dalam jiwa buah hatinya.

Wanita-wanita luar biasa. Merekalah madrasah pertama yang mampu mengukir iman dalam hati anak-anaknya yang masih belia. Mencurahkan kasih sayang dan menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka juga ikhlas melepas kepergian anak-anak tercinta ke medan juang, lahan jihad dan lapangan kehidupan.

Masihkah ada wanita-wanita luar biasa seperti Ummu Haritsah dan Khansa? Jawabnya, ada. Setiap zaman masih memungkinkan untuk melahirkan wanita-wanita seperti mereka. Asal kita tahu caranya dan mau mengadopsinya. Dan cara itu telah gamblang dibentangkan Allah dalam Al-Quran dan Rasulullah dalam sunnahnya. Manhaj Qur'ani dan manhaj Nabawi adalah jawabannya. Tarbiyah adalah kuncinya. Insya Allah. []


copas from : www.bersamadakwah.com